Minggu, 22 Agustus 2010

SILSILAH SUKU JAWA

Keunikan dan keragaman budaya jawa yang lebih mengutamakan tiga hal, yakni keselarasan, serasi dan keseimbangan segala unsur tentang kehidupan yang harmonis, saling berdampingan menjaga ketentraman, menyangkut hubungan antara sesama manusia maupun dengan alam. Masyarakat suku jawa sesungguhnya tidak menyukai konflik, hal-hal yang menimbulkan ketidakselarasan harus segera diluruskan agar semua kembali berjalan harmonis.

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat suku jawa, umumnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur tatakrama dan kesopanan. Pada masyarakat suku jawa, terdapat beberapa golongan status sosial berdasarkan tingkat tertentu, misalnya Golongan Bangsawan (Priyayi) dengan golongan rakyat biasa, hal ini juga berpengaruh terhadap bahasa yang mereka gunakan dalam berkomunikasi.

Penggunaan bahasa dibedakan menjadi beberapa macam berdasarkan status sosial antara lain :

1. Ngoko, Yakni bahasa jawa yang berada pada tingkatan paling bawah dan digunakan oleh mereka yang memiliki derajat sama dalam tatanan sosial.
2. Ngoko andhap, ialah bahasa jawa ngoko yang bercampur dengan bahasa krama.
3. Madya, merupakan bahasa jawa pada tingkat tengah. Artinya, lebih tinggi atau lebih halus dari bahasa ngoko/ngoko andhap.
4. Krama, Bahasa yang dipergunakan untuk menghormati seseorang dan digunakan dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.
5. Krama Inggil, Tingkatan bahasa yang lebih tinggi dari bahasa Jawa Krama. Kata-kata bahasa Jawa Krama Inggil tidak terlalu banyak, hanya menjelaskan mengenai nama anggota badan, tempat, tindakan, kondisi, dan nama-nama barang yang sering digunakan kepada orang yang dihormati.

Dari beberapa macam tingkatan bahasa jawa, ada pula beberapa bahasa yang khusus di gunakan di lingkungan keluarga keraton yakni bahasa Bagongan dan Kedhaton. Bahasa ini masih digunakan di lingkungan keraton Jogja.

Masyarakat suku jawa sebagian besar menganut agama islam dan sebagian lainya beragama Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha. Sebagai penganut Islam, masyarakat suku Jawa terbagi lagi dalam dua golongan, yaitu Golongan Santri yang merupakan golongan yang menjalankan Ibadah sesuai dengan ajaran Islam serta syariat-syariatnya, dan Golongan Islam kejawen, adalah masyarakat yang menganut agama Islam tetapi masih dipengaruhi oleh kepercayaan Animisme atau pengaruh ajaran Hindu dan Budha. Golongan Islam kejawen ditandai dengan adanya upacara atau ritual- ritual khusus pada hari besar atau hari tertentu yang dianggap sakral.

Dengan keragaman budaya suku jawa, Masyarakat suku jawa umumnya dianggap sebagai suku yang memiliki kemampuan menjalankan sinkretisme kepercayaan, dimana semua budaya lain diserap dan ditafsirkan menurut nilai- nilai jawa.

1 komentar:

  1. mantep tu.....
    menjaga kelestarian dan
    mempertahankan suku kebudayaan udah jrg d lakukan org jaman skrg.....
    trus lestarikan suku kbudayaan indonesia.....

    BalasHapus